Kisah imajinatif di bulan Ramadhan

Alkisah pada suatu masa hiduplah dua orang bernama Otak dan Hati, mereka bersahabat sejak masih kecil, hingga suatu waktu mereka terpisah karena keduanya ingin belajar di sekolah yang berbeda, Otak ingin belajar mengenai agama, keingintahuannya sangat kuat akan ilmu agama, dia yakin dia dapat menyerap semua ilmu agama yang ada. Berbeda dengan si hati, Hati hanya ingin mencari pelajaran agama lewat intuisi yang diperoleh, lewat setiap kebenaran yang dia temukan.

Otak pun mulai belajar berkeliling di pesantren agama yang terkenal, tak lelah dia belajar, berbagai prestasi dia kejar, pikirannya penuh akan pelajaran agama, hingga intelektualitasnya dikenal dan menggema. Sungguh merupakan suatu berkat yang tak terkira, di masa tua dia menjadi ahli di bidangnya, menjadi panutan orang sekitarnya.

Sedangkan si Hati berjalan tanpa tujuan yang pasti, karena yang dia mau hanyalah mencari kebenaran yang alami, nuraninya bergerak kemana perasaan berbicara, dia tak ingin menjejali pikirannya dengan teori agama, karna yang dia butuhkan adalah nurani yang mampu membahagiakan batinnya. Karena menurut Hati ilmu untuk membahagiakan hidupnya, bukan untuk menjejali pikirannya.

Bukan hal yang mudah bagi si Hati, mengandalkan nurani telah memunculkan kegelisahan, batinnya bertanya, perasaannya tak tentu entah kemana, mencari kebenaran sejati tak semudah yang dikira, karena Hati menerima semua ilmu yang ada, hanya berdasarkan dari nuraninya. Sedangkan Otak menjadi Cendekiawan agama ternama, setiap harinya buku-buku ia cerna, berbagai polemik agama baik yang konvensional maupun kontemporer dapat dia olah dengan baik di pikirannya, sumber sumber yang ada menjadi pegangannya, intelektualitasnya menjadi tanggung jawab akan dirinya, karena dia sekarang bertanggung jawab atas reputasinya.

Suatu ketika di bulan Ramadhan mereka bertemu dalam salah satu acara dimana Otak merupakan pembicaranya, mereka berpelukan dan saling melepas cerita masa lalu, si Hati mendapat tempat spesial duduk di samping Otak, Otak pun mulai berbicara apa yang sudah dia kuasai, berbagai problematika kontemporer bahkan yang juga menyinggung masalah agama dia bahas sesuai apa yang telah dia pelajari dan dia kuasai. Si Hati mendengarkan dengan seksama namun kegelisahan masih tetap mengganjal di lubuk perasaannya, tanpa sengaja dia mengacungkan tangan dan bertanya.

“Ada apa Saudaraku, engkau ingin bertanya kepadaku?” Otak bertanya

“Maafkan aku wahai Saudaraku, aku hanya ingin bertanya, walau tidak sebanyak kamu, aku mungkin juga memiliki banyak pengetahuan mengenai Tuhan, walau dari berbagai macam sumber, termasuk dari berbagai macam filsuf, Teolog dan bahkan salah satunya dari buku yang kau tulis saudaraku. Tetapi yang selalu menjadi pertanyaanku wahai Saudaraku, bagaimana sebenarnya kita dapat mengenal dan mencintaiNya, adakah jalan dan apakah batinku dapat tertuntun kepadaNya, karena aku tak ingin aku hanya menaruhNya sebagai kumpulan pengetahuan dalam pikiranku saja ?” Si Hati bertanya dengan nada yang rendah

Sejenak Otak terdiam, lidahnya kelu ingin menjawab, apa yang di tanyakan si Hati tak sesuai dengan apa yang di majelis pikirannya, namun dengan pelan dia menjawab pertanyaan si Hati.

“Wahai Saudaraku, pertanyaanmu sangatlah singkat namun mendalam, perlu kedalaman perasaan untuk menjawabnya, maafkan aku kalau sampai saat ini jawaban itu belum tersedia di pikiran saya” Otak menjawab dengan jujur sambil tetap mencoba bijak.

Mungkin si Otak terlalu menghabiskan waktunya dengan teori dan perdebatan tentang agama dan kehidupan, sampai dia lupa menghayati dan merenungi perihal Tuhan dalam hatinya, mungkin si Hati belum menemui apa yang dia maksud dengan kebenaran sejati, tapi jika dia dituntun menuju kebenaran sejati, maka dia akan mencintai Tuhannya dengan ikhlas dan tulus jauh melebihi pikiran yang ada.

Cerita di atas hanyalah imajinasi dari saya, jika kita gambarkan pada diri kita, otak dan hati tidak akan menyempurnakan kehidupan kita jika kita tidak dapat menyatukannya dalam pribadi kita, keduanya sering ingin dominan satu sama lain, padahal kita harus selalu menyeimbangkan keduanya dalam satu jalan agar kita tak lepas jalan.

 

“Otak akan selalu menggunakan Nalar, Hati akan selalu menggunakan Rasa”

“Pemikiran dan Perasaan ada dalam dinamika kehidupan manusia”

“Dalam bentuk gerak dan gelombang jiwa dari visualisasi raga”

“Seperti dua sisi mata uang yang berbeda tapi memiliki nilai sama”

 

“Nalar ibarat mata sebagai pengambil arah”

“Rasa ibarat kaki yang mengambil langkah”

“Bahkan ketika rasa harus bergerak mundur”

“Nalar akan menoleh kebelakang agar tak salah jalur”

 

“Manusia tanpa otak tanpa penalaran”

“Akan seperti bumi tanpa rotasi”

“Manusia tanpa hati tanpa perasaan”

“Akan seperti bumi tanpa manusia yang menghinggapi”

 

“Tapi kadang situasi tak seperti yang kita kehendaki”

“Otak terlalu logis dan Hati terlalu egois”

“Sehingga manusia jangan mau pecah dan terbagi”

“Keduanya harus selalu beriringan seperti mentari yang selalu menemani”

 

Marhaban ya Ramadhan Day 3rd

Herman Kurniawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s