Surat Untukmu Senyum Untukku

Sore ini aku kembali datang ke cafe ini, ini adalah hari ketujuh aku berada disini, cafe ini berada di bilangan jalan Sudirman, konsep dan interiornya sangat bagus, di halaman luarnya banyak hiasan-hiasan hijau dan bunga-bunga, begitupun di dalam, nuansa desain dari kayu dan hiasan-hiasan hijau juga mencerahkan kafe ini. Banyak muda-mudi yang kongkow di cafe ini dan para karyawan yang sepulang bekerja mampir ke Cafe ini. Cafe ini tenang walau berada di pinggir jalan raya, musik yang diperdengarkan adalah musik-musik instrumental klasik, sehingga kita terbawa dalam ketenangan dan kenyamanan yang alami.

Aku punya tempat duduk favorit di cafe ini, aku selalu memilih tempat duduk di ujung samping pintu, tempat ini adalah tempat favoritku, dari sini aku dapat melihat seluruh ruangan kafe, dari sini pula aku dapat melihat jalan melalui kaca, melihat siapa saja yang datang ke cafe ini, ya, yang datang ke cafe ini. Bukan tanpa alasan aku setiap hari ini ke cafe ini sendirian, ada yang kutunggu, ada yang ingin kulihat, suatu sore 7 hari yang lalu ketika aku pertama kalinya ke cafe ini untuk melepas penat akan pekerjaanku, aku melihatnya untuk pertama kalinya, dia datang bersama teman-temannya, aku panggil dia gadis, wajahnya sungguh menawan, umurnya mungkin sekitar 20 tahun, rambut panjang dan tinggi semampai, mata yang indah dan senyumnya sangat manis waktu itu.

7 hari yang lalu, itu sudah 7 hari yang lalu, aku menunggunya setiap hari disini untuk menanti dia datang lagi. Aku ingin bertemu dia lagi hari ini. Sore itu cuacanya hujan, kulihat jalanan tetap ramai walau hujan turun, orang-orang lalu lalang pulang kerja terburu-buru, di seberang cafe mulai dibangun pondok-pondok kecil untuk pasar ramadhan, tak terasa 3 hari lagi sudah masuk bulan ramadhan, berarti hanya tinggal 3 hari lagi aku bisa menunggunya di cafe ini, aku ingin pulang kampung, aku bosan dengan situasi kota yang mulai ramai ini, aku ingin ketenangan di kampungku yang sejuk di Jawa Barat sana.

Keinginanku untuk pulang tak menyurutkan niatku untuk menunggu gadis itu, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, mungkin hari ini dia tak datang lagi pikirku, tubuhku lemas, beberapa hari ini aku memang tidak terlalu fit, tekanan pekerjaan sedikit banyak mengganggu kesehatanku, hanya keinginanku untuk melihat gadis ini yang membuatku bersemangat untuk tetap ke cafe ini. Cafe sudah mulai ramai, tapi pandanganku malah kosong ke jendela luar, kulihat wajah bersemangat dari orang yang pulang bekerja, parasnya terlihat lelah namun penuh kegembiraan, lalu lalang orang-orang itu berjalan namun diantara orang-orang itu terlihat paras cantik yang telah kutunggu beberapa hari ini. “Dia datang…!!!, Aku seakan tak bisa menahan kegembiraan dan kegugupanku tatkala melihatnya berjalan bertiga bersama temannya menuju cafe ini, jalannya terlihat terburu-terburu menghindari hujan dengan payung kecil yang dia pegang, di tangan satunya dia memegang buku-buku, oh ternyata dia masih kuliah, pakaiannya hari ini sedikit resmi dengan blazer, mungkin dia baru pulang kuliah. Pintu cafe pun terbuka olehnya, sejenak dia menutup payungnya dan masuk bertiga bersama temannya, “Wah untung ya nindy kamu berhasil di persentasi tadi, padahal dosen tadi nanyanya killer banget” kata temannya, Nindy pun hanya tersenyum mendengar temannya berbicara, Nindy… namanya Nindy, sungguh nama yang indah untuk seorang wanita yang cantik seperti dia, hari ini mereka duduk di seberangku lagi, tapi Nindy duduk menghadap ke arahku, “ah sialan, aku jadi tak berani menatapnya” padahal hari ini aku ingin menatapnya lagi seharian, tatapannya sangat damai, seperti sumber kehidupan, seperti bisa menggantikan oksigen yang selama ini kuhirup. Sebenarnya aku hanya ingin dapat senyum darinya, senyumnya sepadan dengan apa yang kulakukan selama berhari-hari ini, kupikir aku tidak bisa menunggu lagi di lain hari.

Dalam diamku berpikir, aku harus berani menyapanya, karena waktu tak bisa menunggu, momen seperti ini mungkin tidak akan datang lagi, entah gadis itu mau balik menyapaku atau tidak, itu urusan nanti, setidaknya aku harus berani menyapanya, melihat tatapan yang damai itu dari dekat, aku berdiri, rasa gugup menyelimutiku, tanganku dingin, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, kenapa aku seperti ini?? Aku harusnya bisa lebih tenang, bukannya hal ini harusnya bisa dilakukan semua pria? Aku pria sejati, harusnya aku bisa. Kuberjalan mendekati meja tempat mereka duduk, cafe makin ramai saja, banyak orang yang bersantai sekalian berteduh karena hujan makin deras, aku melangkah mendekati meja itu, aku mendekat, dan akhirnya aku berada di sebelah mejanya, aku menoleh dan menatap mereka, mereka pun mulai menatapku, jantungku semakin berdetak cepat saat gadis itu juga menatapku, pada saat yang sama seorang pelayan membawa minuman di sebelahku , dia nampak terburu-buru, akibat hujan, lantai cafe menjadi licin, dia pun terpeleset, gelas-gelasnya terlempar ke arahku, segera kulindungi diriku dengan jaket kulit yang kupakai, minumannya tumpah ke arahku, dan jaketku basah karenanya, syukur gadis itu tidak terkena. Mereka kaget dan tidak dapat berkata, kalau aku tidak ada disitu mungkin minuman itu akan tumpah menerima mereka, mungkin akan menimpa buku-buku kuliah gadis itu, aku bersyukur aku yang terkena tumpahan minuman itu, aku segera menuju ke kamar mandi lagi untuk membersihkan diriku, sayup-sayup kudengar pelayan itu meminta maaf, tapi kuangkat tanganku, mengisyaratkan aku tidak apa-apa dan  tidak marah. Di dalam toilet aku tersenyum, aku gagal, aku bingung harus berbuat apa lagi untuk mendekatinya lagi.

Setelah membersihkan diri aku keluar toilet dan langsung menuju mejaku, aku urungkan niat untuk mendatangi meja mereka lagi, aku melewati jalur lain yang tidak melewati meja mereka dan kembali duduk di mejaku, entah kenapa badanku terasa makin lemas saja, dan  pandanganku mulai kabur, aku tidak mau penyakitku kambuh disini, aku ingin cepat pulang, tapi ada yang harus kuselesaikan hari ini, ada yang ingin kuberikan pada Nindy. Aku menatapnya kembali dan kali ini dia menatapku balik, dan tersenyum…!!! dia tersenyum padaku, semua kegugupanku tadi hilang seketika, aku seakan bergembira karenanya, tapi mengapa badanku tetap lemah, dadaku mulai sesak, tapi aku tak peduli, aku tetap gembira karena dia tersenyum padaku, dia bahkan berdiri dari kursinya dan menuju ke arahku…!!! apa yang harus kukatakan ketika dia datang, aku gembira, campur gugup dan juga sakit… dadaku semakin sakit, nampaknya sakit jantungku kambuh, hal ini sudah kuderita selama beberapa tahun ini, tak kukira akan kembali terasa hari ini, sialan… jangan sekarang, ini adalah momen terindah dalam hidupku, kenapa kau datang sekarang penyakit sialan. Nindy telah berada di depanku, dan dia duduk di depanku, senyumnya sangat tulus dan damai, aku sempatkan tersenyum dalam sakit.

“Terima kasih, kalau bukan karna mas mungkin minuman tadi akan menimpaku dan bukuku, buku2 itu sangat penting bagiku, dan tak bisa kucari lagi kalau rusak, salam kenal ya mas, namaku Nindy, nama mas siapa?” Nindy menyapaku.

Aku balik menyapanya dalam raut senyum dalam sakit “Hehe, iya sama-sama, namaku Roni”.

“Mas Sakit? Kog pucat gitu?” kata Nindy

Sejenak aku terdiam dan kulihat dia memakai kalung yang terdiri dari 3 huruf R, aku pun tersenyum dan balas menyapanya, “Iya nih, mungkin karena hujan, jadi sedikit masuk angin”

“Owh gitu, aku bawa minyak angin nih di tas, kuambilkan dulu ya mas”, Kata Nindy

“Gak perlu de, aku bentar lagi mau pulang, aku ada titipan buat kamu, tapi bukalah setelah sampai di rumah ya, bukan apa-apa kog, hanya sepucuk surat, dan hanya surat biasa” Aku mengatakannya dengan lancar, walau dalam hati aku terengah-engah menahan sakit untuk mengucapkannya, segera kuberikan surat yang dibungkus dalam sebuah amplop berwarna putih, Nindy menerimanya dengan sedikit terkejut, tapi wajarlah, menerima sesuatu dari orang yang tidak dikenal, pasti akan mencurigakan. Sialan… sakit ini semakin parah saja, aku ambruk dari kursi dan tertimpa meja, Nindy pun kaget dan meminta tolong pada semua orang di cafe, pandangaku makin kabur, nafasku semakin susah, sialan, baru saja aku  merasakan momen terindah dalam hidupku, aku sudah harus berjuang dalam kondisi hidup dan mati, setidaknya dia telah menerima suratku. Entah apa reaksinya setelah membaca surat itu, apakah aku akan diterimanya atau ditolaknya itu urusan belakang, yang penting dia telah menerima suratku. Orang-orang mulai panik dan memompa dadaku, aku mulai tak merasakan apa-apa, semuanya putih, tapi aku masih bisa melihat wajah Nindy yang mulai menangis, jangan menangis, aku mau lihat kebahagiaanmu walau dari akhirat nanti, aku ingin kamu selalu tersenyum walau dari surga atau neraka dimana aku berpijak nanti. Bacalah surat itu Nindy, dan kamu akan mengerti mengapa aku ingin bertemu denganku. Nafasku mulai menghilang, nampaknya saatnya aku mengucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal dunia, selamat tinggal kehidupan, Selamat tinggal Gadis manis, Selamat tinggal… Nindy, Selamat tinggal… wahai anakku…

Lailahaillallahu Muhammadurrasullallahu… Assalamualaikum.

Nindy menangis, terisak, tak disangkan orang yang baru ditemuinya, orang yang baru dikenalnya dan memberinya surat tiba-tiba meninggal dihadapannya, dia kemudian membuka surat itu, membacanya, terkejut, terduduk dan menangis dengan air mata alami yang sangat deras. Beginilah isi suratnya

 

Dear Gadis

Kuharap ayah dapat tahu namamu sebelum menulis surat ini, tapi ayah takut akan waktu tidak bisa menungguku lagi, mungkin kamu tidak mengenal ayah, dan mungkin kamu agak aneh dan curiga orang yang tidak dikenal tiba-tiba memberimu surat, mungkin ayah terlihat muda, karena ayah memang masih berusia 39 tahun. Ketika ayah berusia 18 tahun ayah bertemu dengan seorang wanita bernama Riska, dia adalah seorang wanita cantik dari Balikpapan, yaa, dia adalah ibumu, ibu kandungmu. Kami bersama-sama kuliah di Bandung, di awal semester kami berkenalan dan berpacaran, kami terlalu bahagia dan melupakan batas-batas etika berpacaran, Riska hamil di usia kami yang masih sangat muda, orang tuanya mengetahuinya, ayah bermaksud bertanggung jawab sepenuhnya, tapi kakekmu terlalu angkuh, jangankan menolak ayah, dia bahkan menghajar ayah babak belur dengan beberapa orang, ayah tau ayah salah, tapi ayah sangat mencintai ibumu, ibumu pun dijemput paksa dan dibawa pulang ke Balikpapan, setahun kemudian kamu lahir, ayah masih saja terpukul dan depresi selama beberapa tahun, hingga pada akhirnya niat ayah bulat, ayah akan mendatangi ibumu dan kamu anakku, mungkin sudah terlambat, tapi ayah merantau 2 tahun lalu di Balikpapan ini, ayah mendapatkan pekerjaan yang lumayan disini dan di waktu senggang ayah berusaha mencari informasi tentangmu, sampai pada 6 bulan lalu secara tidak sengaja ayah bertemu dengan ibumu di pasar di hari minggu, dia terkejut saat melihatku dan menangis, tangisan kesedihan yang mendalam disertai sedikit kebahagiaan karena bertemu kembali denganku. Kami bertemu dan duduk sebentar bernostalgia, ayah tahu dia telah menikah lagi, dan ayah tahu ayah tirimu adalah orang yang baik, ayah turut bahagia karenanya, ibumu hanya memberikanku fotomu tanpa memberitahukan alamat rumahnya, dia tak mau walau kupaksa, ayah juga tak mau memaksanya lebih lanjut, dia hanya bilang bahwa kamu sekarang dalam kondisi sehat dan tumbuh cantik, dan setelah kulihat sekarang aku percaya padanya, senyummu sama seperti ibumu, ayah ingin bertemu denganmu tapi ibumu tak membolehkanku, dia berkata punya alasan kuat untuk menolakku datang ke rumahnya, entah apa itu. Aku pasrah, tak bisa bertemu denganmu nak, ayah berencana pulang kampung pada saat ramadhan ini, dan entah apa Allah mendengar doa ayah, ayah bertemu denganmu di cafe ini pada tanggal 1 Juli kemarin, ayah terus datang tiap hari menunggumu nak, ayah sayang sekali padamu, kamu tumbuh sangat cantik dan baik. Ayah tidak bermaksud mengganggu kehidupanmu, ayah hanya ingin bertemu denganmu dan ingin mendapat senyum darimu, itu sudah lebih dari cukup dalam kehidupanku sebagai ayah biologismu, tidak pernah terpikirkan dipanggil ayah olehmu, mungkin aku tidak pantas untuk itu. Anakku, jagalah selalu dirimu, tumbuhlah menjadi anak yang baik dan patuh kepada kedua orangtuamu, ayah sudah sangat bahagia bertemu dengamu, mungkin ketika kamu membaca surat ini kamu tidak akan bertemu ayah lagi, karena ayah harus pulang, ayah akan terus mendoakanmu nak dalam setiap detik hidupku. Ayah sayang kamu nak, ayah ingin memanggilmu sekali dengan nama yang ayah ingin berikan padamu dulu. “Rahma, senang melihat tumbuh besar nak, sebelum ibumu pulang, ayah memberikannya kalung berinisial 3 huruf R, itu adalah inisial nama kita, kuharap ibumu masih menyimpannya nak. Selamat tinggal sayank, ayah sangat sayang padamu, Selamat tinggal Nak”.

 

Ayahmu

Roni Kurniawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s