Ramadhan dan Social Media

“Hakikat penyesalan adalah kesadaran atas sedemikian kealpaan yang telah dibuat”

“Kekayaan hati adalah keikhlasan untuk saling memaafkan”

 

Ikhlas adalah kata kunci ketika memasuki bulan Ramadhan, pun begitu bagi kita yang berusia produktif sekarang ini, kita dituntut harus ikhlas dalam beberapa hal dimana di satu sisi pertentangan-pertentangan sering terjadi di umur kita sekarang ini. Ikhlas dalam berpuasa, ikhlas dalam beribadah, ikhlas dalam hubungan antar manusia. Semua poin itu penting, namun biarlah poin 1 dan 2 menjadi rahasia masing-masing antara kalian dengan Allah, poin ketiga juga penting karena usia produktif kalian adalah saat dimana kalian aktif hubungan sosial, baik hubungan sosial secara nyata, maupun hubungan sosial secara maya (social media).

Berkaitan dengan social media sendiri, remaja dan dewasa muda adalah pelaku utama dari social media itu sendiri, modernisasi teknologi membawa banyak pengaruh dimana Ramadhan disambut lebih meriah di jejaring sosial dibanding jejaring kehidupan nyata, status BBM, Facebook, Twitter, Path maupun Instagram penuh dengan linimasa kegiatan menyambut Ramadhan sebagai contoh dapat kita runut seperti dibawah ini kronologinya:

  • H-1 Ramadhan   : Beranda dan Recent Update kalian akan penuh Broadcast BBM minta maaf, check in location di kuburan, foto kuburan, foto kembang untuk nyekar dan ziarah.
  • Malam Tarawih   : Check in di Masjid, Foto Selfie sambil pake baju muslim atau mukena
  • Sahur                : Bangunin orang pake broadcast, Makanan sahur jarang di foto dan di posting karena kebanyakan hanya makan Indomie
  • Buka Puasa        : Foto makanannya dulu baru buka puasa.

Masih banyak sebenarnya yang biasa dilakukan di jejaring sosial, beberapa hal diatas hanya hal yang paling sering dilakukan, lalu apakah hal di atas sah dilakukan? Sah saja, karena jejaring sosial adalah tempat untuk sharing dan berbagi, yang menjadi permasalahan adalah pada intensitas kalian update tentang hal di atas, karena selain tempat berbagi, social media adalah tempat dimana kita orang dapat menjadi skeptis, iri, dengki menjadi satu, hal yang sangat dihindari selama bulan ramadhan ini.

 

“Ah, alay banget, di masjid aja pake Selfie segala, paling juga tarawihnya sekali doang”

“Ah, tiap hari Broadcast BBM bangunin sahur, udah kaya tukang ronda aja”

“Ah, pake jilbab juga bulan puasa doang, abis lebaran juga paling make HotPants lagi”

“Ah sok sokan posting ayat-ayat Al Qur’an, baca Al Qur’an aja jarang, Shalat aja jarang”

 

Bisakah kita sebagai pelaku social media yang rajin update menghindari kejadian di atas? Tidak usah dipikirkan jika kalian ikhlas dalam menjalankan ibadahnya, dan menjadi teguran jika kalian melakukannya hanya untuk eksistensi semata, Ramadhan adalah bulan dimana kalian bisa eksis sambil beribadah, tentunya dengan keikhlasan yang berasal dari keimanan kita.

Dan bisakah kita menghindari pandangan skeptis, iri, dengki dan segala hal buruk agar tak keluar dari bibir kita selama bulan puasa? Namanya juga bulan puasa masbro mbabro, bulan sabar dan bulan keikhlasan, latih untuk memandang segala sesuatunya secara positif, kalaupun kita iri dan dengki kita juga kadang tidak lebih baik dari orang yang kita bicarakan di socmed.

Lalu, apakah kita harus mengurangi intenstitas Socmed kita selama bulan puasa? Tidak juga harus begitu, kembali kedalam intensitas kita dalam melakukannya, tapi kalau kita memang ingin menjadi lebih baik di bulan Ramadhan ini ya kita harus kurangi sedikit intensitasnya, karena apa, karena Socmed dapat menjadi sebuah adiksi yang berbahaya, detoksifikasi diri dari social media juga penting dicoba di bulan Ramadhan agar kita bisa menganggap kita tidak tergantung pada social media dan lebih banyak waktu untuk melakukan hal bermanfaat lainnya. Beberapa orang tidak setuju karena saat Ramadhan jejaring sosial juga banyak menampilkan hal yang bermanfaat, Event Ramadhan, Kultum, Cerita cerita Ramadhan dan beberapa hal manfaat lainnya, tentu saja hal itu bagus, namun tentu saja jika kita ingin lebih baik, yang harus kita kurangi intensitasnya adalah waktu kita dalam bergadget ria, tidak melulu harus cek beranda, home atau recent update hanya untuk melihat postingan postingan yang mungkin bisa menimbulkan iri dan dengki semata.

Lalu apa hal yang harus dilakukan untuk mengurangi adiksi dari socmed? Jika, menghapus socmed adalah tindakan yang terlalu kejam, cobalah untuk cukup mematikan notifikasinya saja, karena yang membuat kita selalu memegang gadget adalah dari notifikasi kemudian dilanjutkan memeriksa berandanya, jika bisa dilakukan kalian akan sadari betapa banyak waktu yang bisa kalian lakukan untuk melakukan hal lain, terutama di bulan Ramadhan ini. Namun dibalik semua penjelasan ini, tidak menjadi masalah jika kalian telah menetapkan batasan di diri kalian dalam bersocmed ria, jika kalian bahkan mendapat banyak manfaat di socmed setiap bulan Ramadhan tentunya kalian akan mendapatkan banyak pahala dari rutinitas ini, dibandingkan hanya untuk sekedar pamer iri dan dengki. Pada dasarnya hal hal ini melatih kita untuk menyadari pentingnya berinteraksi secara nyata baik sesama manusia maupun kepada sang pencipta, tidak harus pada bulan Ramadhan, tapi momennya akan tepat di bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan, selamat berpuasa…

It’s not about what you share, It’s about benefit that you get and benefit for the people who see it”

 

 

Herman Kurniawan

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s